NILAI LUHUR SERAT WULANGREH PUPUH GAMBUH MEMBANGUN KARAKTER
GENERASI MILENIAL
Dwi Retnowati
SMP NEGERI 2 SAMPANG KABUPATEN CILACAP
Email: dretnowati21@gmail.com
Abstrak
Serat Wulangreh adalah
karya sastra Jawa karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV yang penuh dengan ajaran
nilai moral yang tinggi. Nilai moral yang terkandung didalamnya merupakan
sumber pendidikan karakter yang berbasisi pada kearifan lokal. Serat Wulangreh
pupuh Gambuh merupakan bahan ajar pada mata pelajaran Bahasa Jawa kelas VIII di
tingkat SMP/MTs. Siswa kelas tersebut diduduki oleh generasi milenial. Tujuan
dari penelitian ini adalah mengungkapkan nilai-nilai luhur yang terkandung di
dalam serat Wulangreh pupuh Gambuh sebagai sumber pendidikan karakter bagi
generasi milenial. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan
fokus pada pendidikan karakter yang dibangun dan diterapkan pada generasi
milenial. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif.
Analisis data dilakukan secara deskriptif. Serat Wulangreh dibongkar isinya
untuk menentukan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Dari
nilai-nilai luhur tersebut ditarik kesimpulan nilai karakter yang termuat di
dalamnya. Hasil penelitian ditemukan kandungan teks yang layak dijadikan sumber
pendidikan karakter bagi generasi milenial meliputi jangan menyombongkan diri
atas kekuatan, keluhuran, dan kepandaiain yang dimiliki; jangan merasa serba
tahu; jangan suka disanjung, mau
mendengarkan nasehat; harus jujur, sabar, cermat, hati-hati, dan waspada;
selektif memilih teman; meraih kepercayaan orang dengan cara yang baik. Hal
tersebut menjadi sumber pendidikan karakter bagi generasi milenial sebagai
bekal dalam menjalani kehidupan.
Kata kunci : nilai
moral, nilai luhur, nilai karakter, generasi milenial
Abstract
Serat Wulangreh is a
Javanese literature worked by Sri Susuhunan Pakubuwana IV which is full of high
moral values. These moral values are a source of character education based on
local wisdom. Serat Wulangreh Pupuh Gambuh is a teaching material in Javanese
subject for grade VIII students of Junior High School, which are occupied by
the millennial generation. Thus, the purpose of this research was to reveal the
noble values contained in the Serat Wulangreh Pupuh Gambuh as a source of character
education for the millennial generation. This study is categorized into
qualitative research with a focus on character education that is built and
applied to the millennial generation. The research method used is descriptive
qualitative method. Data analysis was carried out descriptively. Serat
Wulangreh were opened to determine the noble values contained
in it, which was then concluded as the character values. The results of this
study were the finding of appropriate text content as a source of character
education for the millennial generation, including not to boast about their
strength, nobility, and intelligence; not to feel pretentious; not easy being
flattered and wanted to listen to advice; honest, patient, careful and
vigilant; be selective in choosing friends; and also able to earn people's
trust in a good way. These are the
source of character education for the millennial generation as provisions for
living life.
Keywords: moral
values, noble values, character values, millennial generation
PENDAHULUAN
Generasi
milenial adalah generasi muda saat ini yang hidup dan berkembang seiring
sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat. Kondisi ini
mempengaruhi pola pikir, gaya hidup, bahkan karakter dalam kehidupan
sehari-hari. Dinamika perkembangan teknologi yang begitu cepat berpengaruh pada
perilaku generasi muda yang tidak mencerminkan nilai-nilai filosofis dan
karakter yang selama ini dijunjung tinggi sebagai budaya luhur bangsa
Indonesia. Masa depan bangsa Indonesia ditentukan oleh generasi muda yang saat
ini sedang tumbuh. Agar generasi muda tidak terjebak pada perilaku yang negatif
maka generasi muda membutuhkan arahan agar tidak salah langkah dan tetap
mempunyai filter diri yang kuat sebagai bekal penyaring berbagai macam
informasi yang masuk agar tidak salah arah yang nantinya berpengaruh pada
karakter suatu bangsa. Oleh karena itu Pendidikan karakter bagi generasi muda menjadi sangat penting dan harus terus –
menerus dilakukan oleh semua pihak demi harapan dan masa depan bangsa Indonesia
(Nasiruddin, 2017). Filter diri yang kuat merupakan kunci keberhasilan agar
generasi muda memiliki karakter positif sebagai bekal hidup berbangsa dan
bernegara. Karakter posistif yang bermuara pada kearifan lokal adalah kekuatan
tersendiri agar generasi muda tetap berpijak pada nilai-nilai luhur yang
dimiliki oleh bangsanya sendiri.
Kearifan lokal yang bisa dijadikan
sebagai sumber pendidikan karakter adalah karya sastra. Karya sastra yang
berisi nasehat disebut juga naskah piwulang oleh masyarakat Jawa di masa lampau
dijadikan sebagai sumber perilaku hidup. Identitas dan jati diri orang Jawa
terlihat pada gestur dan perilaku dengan berdasar pada ajaran masa lampau yang
dipercaya memiliki nilai-nilai luhur dan budi pekerti budaya bangsa. (Nugroho
et al., 2019).
Serat Wulang Reh dipilih sebagai objek
material penelitian, kerena didalam Serat Wulangreh diajarkan hakikat bagaimana
menjadi manusia yang berbudi luhur baik dalam
lingkup sosial dan hubunganya dengan Tuhan (Sri Yulita Pramulia Panani,
2019). Serat Wulangreh Pupuh Gambuh dipilih dalam penelitian ini karena nilai
pesan yang terkandung didalamnya selaras dengan kehidupan anak muda di jaman
sekarang. selain itu juga karena Serat Wulangreh dijadikan bahan ajar dalam
pelajaran Bahasa Jawa tingkat SMP/MTs, dan pupuh Gambuh diajarkan di kelas VIII
Semster Gasal. Dari sini terlihat bahwa generasi milenial yang sekarang duduk
di bangku SMP/MTs adalah generasi sasaran agar mereka tetap berpijak pada
kearifan lokal.
Metode Penelitian
Dilihat dari permasalahan yang
sduah dijelaskan di atas, maka metode penelitian yang digunakan adalah metode
penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Sugiyono (2008:15) menjelaskan bahwa
penelitian deskriptif kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan
pada filsafat postpositivisme yang
biasannya digunakan untuk meneliti pada kondisi objektif yang alamiah dimana
peneliti berperan sebagai instrumen kunci. Proses analisis data dilakukan
secara simultan yang mencakup klarifikasi, interpretasi dan analisis data.
Analisis data dilakukan secara deskriptif (descriptive
analysis). Hasil analisis data kemudian disajikan dalam bentuk laporan
hasil penelitian (kesimpulan).
Adapun langkah-langkah yang
dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1.
Mendeskripsikan
isi serat Wulangreh karya Sinuhun Pakubuwana IV Pupuh Gambuh dengan cara mengambil nilai-nilai luhur.
2.
Menganalisis
nilai-nilai luhur yang sudah dideskripsikan dari isi serat Wulangreh karya Sinuhun Pakubuwana IV Pupuh Gambuh yang ada hubungannya dengan membangun karakter
generasi milenial.
3.
Menarik
kesimpulan hasil analisis yang telah dilakukan sesuai dengan permasalahan dan
tujuan penelitian.
Serat Wulangreh karya Sinuhun Pakubuwana IV Pupuh
Gambuh sebagai objek penelitian, karena
serat Wulangreh adalah salah satu karya besar yang dimasukkan kedalam kurikulum
Mata Pelajaran Bahasa Jawa tingkat SMP/MTs di Jawa Tengah. Serat Wulangreh
Pupuh Gambuh tercantum sebagai bahan ajar mata pelajaran Bahasa Jawa kelas VIII
Semester Gasal. Selain itu juga karena di dalam Serat Wulangreh diajarkan
hakekat bagaimana menjadi manusia yang berbudi luhur baik dalam lingkup sosial
dan hubungannya dengan Tuhan (Sri Yulita Pramulia Panani, 2019). Permasalahan
yang dikaji adalah apa saja kandungan nilai luhur yang terkandung di dalam
serat Wulangreh pupuh Gambuh? Nilai luhur tersebut akan dilihat relevansinya
dalam kehidupan masyarakat sebagai sarana untuk mendidik karakter generasi
milenial. Adapum metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka.
Penelitian ini menggunakan pendekatan tekstual. Tujuannya agar ajaran yang
disajikan dapat dilakukan pemilahan konten teks sehingga bisa dipahami oleh
generasi muda dan dapat digunakan untuk pijakan pengembangan karakter (Nugroho
et al., 2019). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mengungkapkan
nilai luhur yang terkandung dalam serat Wulangreh pupuh Gambuh. Selanjutnya
nilai luhur tersebut dijadikan sebagai sarana untuk mendidik karakter generasi
milenial. Dengan demikian nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam serat
Wulangreh pupuh Gambuh tidak lenyap begitu
saja, bahkan sebaliknya. Nilai luhur tersebut menjadi jati diri bangsa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Salah satu karya sastra klasik
karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV adalah Serat Wulangreh. Serat Wulangreh
ditulis tahun 1768 – 1820, digubah dalam bentuk tembang macapat. Serat
Wulangreh berisi keharusan-keharusan
tentang penghayatan penerapan etika kekratonan yang telah terlembagakan.
Percikan semangat kekratonan dan gambaran pola pemikiran raja tentang berbagai
masalah yang berkaitan dengan politik, pemerintahan, kekuasaan, serta etika
yang tak lepas dari pandangan masyarakat secara umum, semua dibahas dalam serat
Wulangreh ini. (Lan
et al., 2019)
Darusuprapto menjelaskan bahwa
Serat Wulangreh digubah dalam bentuk tembang macapat yang terdiri dari 13
pupuh. Adapun urutan pupuh dalam serat Wulangreh tersebut adalah sebagai
berikut : Pupuh 1 Dhandhanggula, Pupuh 2 Kinanthi, Pupuh 3 Gambuh, Pupuh 4
Pangkur, Pupuh 5 Maskumambang, Pupuh 6
Megatruh, Pupuh 7 Durma, Pupuh 8 Wirangrong, Pupuh 9 Pucung, Pupuh 10 Mijil,
Pupuh 11 Asmarandana, Pupuh 12 Sinom, Pupuh 13 Girisa. Serat Wulangreh karya
Sri Susuhunan Pakubuwana IV pada akhir Ahad Kliwon (Minggu Kliwon), Wuku
Sungsang, tanggal 19 Bulan Besar 1735. (Sri
Yulita Pramulia Panani, 2019)
Dalam serat Wulangreh diajarkan
tentang piwulang atau nasehat moral kepada manusia agar manusia dapat menjalani
kehidupannya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Profil manusia yang
dikehendaki pada serat Wulangreh adalah sosok manusia yang memiliki perilaku
luhur, menjunjung tinggi nilai-nilai dan moral dalam kehidupannya sehari-hari.
Manusia yang senantiasa berusaha mencapai kehidupan yang selaras lahir dan
batinnya sehingga kesempurnaan hidup di dunia dan akherat tercapai. (Daryanto,
2014).
Pembahasan
di sini fokus pada Pupuh Gambuh. Tembang gambuh mempunyai watak : sumanak
(ramah kepada siapapun), sumadulur (persaudaraan yang erat), mulang (mengajarkan),
dan pitutur (nasehat). Gambuh itu
sendiri dimaknai dengan kecocokan,
kesepahaman, dan sikap bijaksana. Dari hal tersebut dapat dimaknai dengan sikap
bijaksana untuk menempatkan sesuatu pada
tempatnya, sesuai dengan porsinya, dan mampu bersikap adil. Sesuai dengan
karakter tembang Gambuh ini, maka tembang gambuh itu menggambarkan siklus
kehidupan manusia memasuki masa muda masa indah masa menjelang pernikahan. Kata
gambuh itu sendiri ada yang mengartikan dengan kata jumbuh, yang artinya cocok. Dari hal ini maka
tembang gambuh itu cocok untuk memberi nasehat kepada anak-anak muda.
Adapun interptretasi terhadap isi
teks serat Wulangreh Pupuh Gambuh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, setelah
dianalisa tentang ajaran keutamaan moral adalah sebagai berikut. Darusuprapto dalam bukunya Serat
Wulangreh anggitan Dalem Sri Pakubuwana IV menyatakan bahwa isi ajaran
pupuh Gambuh menjelaskan mengenai orang hidup di dunia harus memiliki watak yang baik yaitu rereh (sabar,
mengekang diri), ririh (tidak tergesa-gesa atau pelan-pelan) dan berhati-hati.
Manusia harus menghidari sikap adigang (sombong mengandalkan kekuatan
fisik), adigung (sifat meninggikan
pangkat dan derajat), adiguna (sifat meninggikan kepandaian akal yang
membahayakan) (Sri Yulita Pramulia Panani, 2019).
Analisis
isi ajaran moral Serat Wulangreh
perbaitnya dapat dijabarkan sebagai berikut.
PUPUH III
G A M B U H
01
Artinya
Sekar gambuh ping catur,
Kang cinatur polah kang kalantur,
Tanpa tutur katula-tula katali,
Kadaluwarsa katutuh,
Kapatuh pan dadi awon.
Tembang gambuh pola yang keempat,
Yang dibahas adalah perilaku yang kebablasan,
Tidak mau mendengar nasehat,
Semakin lama semakin tak terkendali,
Hal ini akan berakibat tidak baik.
Nilai moral yang terkandung dalam bait 1 sebagai bekal pendidikan karakter adalah bahwa orang yang tidak mau mendengar nasehat akan berakibat tidak baik. Untuk itu hendaknya kita senantiasa mendengarkan nasehat agar diri kita menjadi lebih baik.
Nilai karakter yang terkandung yaitu suka mendengarkan nasehat dari orang lain.
02
Artinya
Aja nganti kebanjur,
Barang polah ingkang nora jujur,
Yen kebanjur sayekti kojur tan becik,
Becik ngupayaa iku, ‘
Pitutur ingkang sayektos.
Jangan sampai kau terlanjur,
Dengan polah tingkah laku yang tidak jujur,
Jika sudah terlanjur akan mencelakakan,
Dan hal itu tidak baik,oleh karena itu
Berusahalah mencari ajaran yang benar.
Nilai moral yang terkandung dalam pada bait 02 adalah kita hendaknya berusaha dan menjaga agar jangan sampai berperilaku yang tidak jujur. Berperilaku yang tidak jujur jika sudah terlanjur melakukannya apalagi sudah menjadi kebiasaan akan mencelakakan diri sendiri.
Nilai karakter yang terkandung adalah sikap jujur.
03
Artinya
Tutur bener puniku,
Sayektine apantes tiniru,
Nadyan metu saking wong sudra papeki,
Lamun becik nggone muruk,
Iku pantes sira anngo.
Nasehat yang benar itu,
Sesungguhnya patut untuk dicontoh,
Walaupun nasehat itu berasal dari orang yang rendah derajatnya,
Namun, jika baik isi nasehatnya,
Maka nasehat itu pantas kau pakai.
Nilai moral yang terkandung dalam bait 03 adalah hendaknya kita senantiasa mencontoh nasehat yang benar tanpa memandang siapa yang memberi nasehat. Jadi, nasehat itu dilihat dari isi nasehatnya bukan dari siapa yang memberi nasehat.
Nilai karakter yang termuat adalah mau mendengarkan dan melaksanakan nasehat yang baik dan benar.
04
Artinya
Ana pocapanipun,
adiguna adigang adigung,
pan adigang kidang,
adigung pan esthi,
adiguna ula iku,
telu pisan mati sampyuh.
Ada kiasan yang bunyinya,
adiguna adigang adigung,
adigang dikiaskan kijang,
adigung dikiaskan gajah,
adiguna dikiaskan ular,
ketiganya mati bersama-sama.
Nilai moral yang termuat didalam bait 04 adalah sikap atau watak adigang adigung adiguna itu diibaratkan dengan hewan kijang, gajah, dan ular. Ketiga hewan tersebut pada akhirnya mati bersama-sama.
Nilai karakter yang ada adalah jangan menyombongkan diri karena kesombongan itu akan membawa celaka.
05
Artinya
Si kidang ambegipun,
angandelken kebat lumpatipun,
pan si gajah angandelken gung ainggil,
ula ngandelaken iku,
mandine kalamun nyakot.
Tabiat si kijang adalah,
Menyombongkan kecepatannya berlari,
Si gajah menyombongkan tubuhnya yang tinggi besar,
Sedangkan si ular menyombongkan,
bisanya yang ganas bila menggigit.
Nilai moral yang terkandung didalam bait 05 adalah kijang, gajah, dan ular menyombongkan kelebihannya masing-masing.
Nilai karakter yang diamanatkan adalah jangan menyombongkan diri akan kekakayaan, kekuasan dan kepandaian yang kita miliki.
06
Artinya
Iku upamanipun,
aja ngandelaken sira iku,
suteng nata iya sapa kumawani,
iku ambeke wong digang,
ing wasana dadi asor.
Itu semua hanya perumpamaan,
Janganlah kau menyombongkan diri,
Karena putra raja sehingga tidak ada yang berani,
Itu tabiat orang yang adigang,
Ujung-ujungnya itu merendahkanmu.
Nilai moral yang terkandung di dalam bait 06 adalah janganlah kamu menyombongkan diri karena kamu anak orang yang memiliki jabatan sehingga kamu merasa tidak ada orang yang berani kepadamu. Sikap seperti itu termasuk watak adigang. Sikap seperti itu pada akhirnya hanya akan merendahkan diri kamu sendiri.
Nilai karakter yang terkandung adalah jangan menyombongkan kelebihan yang kita miliki.
07
Artinya
Adiguna puniku,
ngendelaken kapinteranipun,
samubarang kabisan dipundheweki,
sapa bisa kaya ingsun,
togging prana nora enjoh.
Watak adiguna itu
Menyombongkan kapandaiannya,
Seluruh kepandaian adalah miliknya,
Siapa bisa seperti saya,
Padahal akhirnya tidak sanggup.
Nilai moral yang termuat di dalam bait 07 adalah bahwa orang yang menyombongkan diri karena merasa paling pandai dan menguasai segalanya, akan tetapi pada akhirnya dia tidak sanggup mengerjakan maka hal tersebut hanya akan membuat malu diri sendiri.
Nilai karakter yang terkandung adalah jangan suka menyombongkan kapandaian yang kita miliki.
08
Artinya
Ambek adigang iku,
angungasken ing kasuranipun,
para tantang candhala anyenyampahi,
tinemenan nora pecus,
satemah dadi geguyon.
Tabiat orang adigang itu,
menyombongkan keberaniannya,
semua ditantang berkelahi,
tetapi jika benar-benar dihadapi ia tidak akan melawan,
Akhirnya menjadi bahan tertawaan.
Nilai moral yang termuat dalam bait 08 adalah watak adigang itu adalah watak yang menyombongkan diri tentang keberaniannya. Merasa dirinya itu pemberani sehingga semua ditantang, akan tetapi ketika tantangannya itu diterima maka dia tidak sanggup melawan. Sikap seperti itu pada akhirnya menjadi bahan tertawaan orang.
Nilai karakter yang termuat adalah janganlah kita suka menyombongkan diri merasa paling pemberani. Sikap seperti itu hanya akan merendahkan diri sendiri.
08
Artinya
Ing wong urip puniku,
aja nganggo ambek kang tetelu,
anganggoa rereh ririh ngati-ati,
den kawangwang barang laku,
kang waskitha solahing wong.
Dalam kehidupan ini,
janganlah kamu mengedepankan ketiga tabiat tersebut,
berlakulah sabar, cermat, dan hati-hati,
perhatikanlah segala tingkah laku,
waspadalah terhadap tingkah laku orang lain.
Nilai moral yang terkandung dalam bait 09 adalah kita hidup di dunia ini janganlah mempunyai ketiga watak: adigang, adigung, adiguna. Pakailah watak sabar, cermat, hati-hati, dan waspada terhadap segala perilaku orang lain.
Nilai karakter yang ada adalah sikap sabar, cermat, berhati-hati, dan waspada.
10
Artinya
Dene tetelu iku,
si kidang ing patinipun,
pan si gajah alena patinireki,
si ula ing patinipun,
ngendelaken upase mandos.
Dari ketiganya itu,
Si kijang mati karena kegembiraannya,
Gajah mati karena keteledorannya,
Sedangkan si ular
mati karena keganasan bisanya.
Nilai moral yang terkandung di dalam bait 10 adalah seseorang yang menyomongkan diri pada akhirnya kesombongannya itu yang akan membawa kebinasaanya.
Nilai karakter yang terkandung adalah janganlah suka menyombongkan diri karena kesombongan itulah yang akan membinasakanmu.
11
Artinya
Tetelu nora patut,
yen tiniru mapan dadi luput,
titikane wong anom kurang wewadi,
bungah akeh wong kang nggunggung,
wekasane kajalomprong.
Ketiganya tidak patut kau tiru,
kalau kau tiru akibatnya akan buruk,
ciri-ciri pemuda kurang kehati-hatiannya adalah,
senang bila ada yang menyanjung,
akhirnya terjerumus.
Nilai moral yang terkandung di dalam bait 11 adalah ketiga sifat adigang, adigung, adiguna itu tidak pantas untuk ditiru. Jika ditiru akan berakibat tidak baik. Salah satu ciri pemuda yang kurang kewaspadaanya adalah senang jika ada orang yang menyanjungnya. Hal ini akan membuat dia terjerumus kedalam perilaku yang tidak baik.
Nilai karakter yang diajarkan adalah janganlah suka disanjung, karena sanjungan itu akan menjerumuskan kedalam hal yang tidak baik.
12
Artinya
Yen wong anom iku,
Kakehen panggunggung,
Dadi kumprung,
Pengung bingung wekasane pan angoling,
Yen ginunggung muncu-muncu,
Kaya wudun meh mecotot.
Jika pemuda itu,
terlalu banyak sanjungan,
Maka ia menjadi tolol,
Tuli dan bingung akhirnya mudah terombang-ambing,
Jika sedang dipuji,
Maka monyong-monyong seperti bisul yang hampir meletus.
Nilai moral yang terkandung di dalam bait 12 yaitu : jadi pemuda itu jangan mudah termakan sanjungan. Jika pemuda banyak disanjung maka dia akan menjadi tolol, bisu dan tuli yang akhirnya akan mudah terombang-ambing. Jika sedang dipuji kesenangannya diibaratkan seperti bisul yang hendak pecah.
Nilai karakter yang diajarkan adalah jangan suka disanjung.
13
Artinya
Dene kang padha nggunggung,
pan sepele iku pamrihipun,
mung warege wadhuk kalimising lathi,
lan telese gondhangipun,
reruba alaning uwong.
Adapun yang senang menyanjung
sangat sederhana keinginannya,
yaitu kenyang perut, basah lidah
Dan basahnya tenggorokan
dengan menjual keburukan orang lain.
Nilai moral yang terkandng didalamnya adalah bahwa orang yang suka menyanjung itu, dia mempunyai tujuan tertentu. Tujuannya hanyalah sederhana yaitu dia hanya mengharapkan makan dengan cara menceritakan kejelekan orang lain. Hal ini sungguh perilaku yang tidak baik.
Nilai karakter yang bisa diambil adalah jangan suka menceritakan kejelekan orang lain hanya demi mendapatkan sesuatu.
14
Artinya
Amrih pareke iku,
yen wus kanggep nuli gawe umuk,
pan wong akeh sayektine padha wedi,
tan wurung tanpa pisungsung,
adol sanggup sakehing wong.
Supaya dekat (dengan atasan).
Jika sudah terpakai kemudian dia banyak membual
Kepada banyak orang supaya orang menjadi takut
Pada akhirnya dia tidak menerima pemberian apa-apa
dari hasil membual menjual kemampuan orang lain
Nilai moral yang terkandung di dalam bait 14 adalah apa yang dilakukannya itu yaitu menyanjung orang lain dengan cara menceritakan kejelekan orang lain adalah cara dia agar bisa dekat dengan atasan. Setelah dekat dia mengharapkan sesuatu, yaitu agar dia terpakai. Akan tetapi, setelah terpakai dia banyak membual agar orang lain takut kepadanya. Pada akhirnya dari keadaan itu dia tidak mendapatkan apa-apa. Perilaku ini adalah perilaku yang tidak baik dan tidak patutu dicontoh.
Nilai karakter yang bisa diambil adalah hendaknya kita jangan melakukan berbagai cara hanya demi agar kita dianggap atau diakui oleh orang lain. Pada akhirnya kita tidak akan mendapatkan apapun dari perilaku itu.
15
Artinya
Yen wong mangkono iku,
nora pantes cedhak lan wong agung,
nora wurung anuntun panggawe juti,
nanging ana pantesipun,
wong mangkono didhedheplok.
Orang seperti itu
tidak pantas untuk berdekata dengan pembesar
karena dapat mendorong untuk berbuat jahat.
Akan tetapi ada kepantasannya,
Orang seperti itu dinasehati dengan keras.
Nilai moral yang terkandung di dalam bait 15 adalah sebagai berikut. Orang yang seperti itu (suka meyanjung orang lain dengan tujuan agar dia dekat dan dipercaya oleh orang yang disanjung) adalah perilaku yang tidak baik. Orang yang seperti itu tidak pantas untuk berdekatan dengan pejabat, karena orang seperti itu dapat mendorong orang lain untuk berbuat jahat. Orang seperti itu sebaiknya diberi nasehat dengan keras.
Nilai karakter yang terkandung adalah selektif memilih teman.
16
Artinya
Aja kakehan sanggup,
durung weruh tuture agupruk,
tutur nempil panganggepe wruh pribadi,
pangrasane keh kang nggunggung,
kang wus weruh amalengos.
Jangan terlalu merasa tahu banyak.
Belum melihat dengan mata kepala sendiri tetapi banyak berbicara,
bahkan hanya dengan mendengar seolah-olah mengetahui sendiri.
Dikiranya banyak yang menyanjung,
padahal yang mengetahuinya akan memalingkan muka.
Nilai moral yang terkandung di dalam bait 16 adalah jangan mejadi orang yang banyak bicara merasa serba tahu. Apalagi hanya bermodal informasi dari orang lain yang belum tentu benar. Jangan berharap orang lain akan menyanjungmu dengan perilakumu yang seperti itu. Keadaannya justru sebaliknya. Jika hal itu dilakukan maka oaring lain yang sudah tahu akan memalingkan diri dari kita. Perilaku seperti ini tidak baik untuk dilakukan.
Nilai karakter yang terkandung adalah jangan merasa serba tahu.
17
Artinya
Aja nganggo sireku,
kalakuwan kang mangkono iku,
nora wurung cinirenen den titeni,
mring pawong sanak sadulur,
nora nana kang pitados.
Oleh karena itu, Nak. Jangan kau bersikap seperti itu
karena perilaku yang seperti itu,
pasti akan menjadi catatan dan perhatian,
dalam hati sanak saudara,
mereka tidak akan percaya lagi kepadamu.(Widhi, n.d.)
Nialai moral yang terkandung di dalam bait 17 adalah janganlah kita berperilaku tidak terpuji. Perilaku tidak terpuji yang kita lakukan akan disoroti dan dijadikan catatan tersendiri oleh orang lain yang pada akhirnya orang lain tidak akan percaya lagi kepada kita. Orang lain akan menjauh dari kita.
Nilai karakter yang terkandung yaitu raihlah kepercayaan orang lain dengan cara yang baik.
GENERASI MILENIAL
Anak-anak muda yang hidup di jaman sekarang ini termasuk kedalam golongan generasi milenial. Generasi milenial adalah generasi yang hidup di tengah kemajuan teknologi yang pesat. Hidup di tengah kemajuan teknologi yang pesat membawa manusia hidup kedalam kondisi tertentu. Kondisi tertentu itu diantaranya adalah mudah mendapatkan informasi dengan begitu cepat. Menghadapi kondisi yang seperti ini dibutuhkan kepribadian yang kuat agar tidak terjebak kedalam hal yang tidak diinginkan. Dari sinilah maka mempelajari serat Wulangreh pupuh Gambuh bagi generasi milenial adalah hal penting agar karakter generasi muda era milenial tetap berpijak pada kearifan lokal. Kearifan lokal ini didapat dari naskah-naskah lama yang masih tetap relevan dengan kondisi modern ini. Naskah lama yang dimaksud adalah serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, raja Kraton Surakarta.
Serat Wulangreh yang terdiri dari 13 pupuh dan pupuh ke tiga adalah pupuh Gambuh yang merupakan materi pembelajaran mata pelajaran Bahasa Jawa tingkat SMP/MTs di propinsi Jawa Tengah adalah salah satu yang harus dipahami oleh siswa SMP/MTs sebagai generasi milenial.
Dari uraian nilai moral dan nilai karakter yang terkandung dalam serat Wulangreh Pupuh Gambuh, maka generasi milenial hendaknya memiliki perilaku sebagai berikut: Suka mendengarkan nasehat dari orang lain. Jujur, Mau mendengarkan dan melaksanakan nasehat yang baik dan benar. Jangan menyombongkan diri karena kesombongan itu akan membawa celaka. Jangan menyombongkan diri akan kekakayaan, kekuasan dan kepandaian yang kita miliki, Jangan menyombongkan kelebihan ataupun menyombongkan apa yang kita miliki. Jangan suka menyombongkan kapandaian yang kita miliki. Janganlah kita suka menyombongkan diri merasa paling pemberani, Sikap sabar, cermat, berhati-hati, dan waspada. Janganlah suka menyombongkan diri karena kesombongan itulah yang akan membinasakanmu. Janganlah suka disanjung, karena sanjungan itu akan menjerumuskan kedalam hal yang tidak baik. Jangan suka disanjung. Jangan suka menceritakan kejelekan orang lain hanya demi mendapatkan sesuatu. Kita jangan melakukan berbagai cara hanya demi agar kita dianggap atau diakui oleh orang lain. Selektif memilih teman. Jangan merasa serba tahu. Raihlah kepercayaan orang lain dengan cara yang baik.
KESIMPULAN
Serat Wulangreh pupuh Gambuh yang terdiri dari 17 bait mengandung nilai-nilai karakter yang bisa dijadikan sebagai rujukan dalam mendidik generasi muda jaman sekarang atau disebut juga generasi milenial. Adapun nilai karakter yang terkandung dalam serat Wulangreh pupuh Gambuh adalah Suka mendengarkan nasehat dari orang lain, jujur, mau mendengarkan dan melaksanakan nasehat yang baik dan benar, jangan menyombongkan diri karena kesombongan itu akan membawa celaka, jangan menyombongkan diri akan kekakayaan, kekuasan dan kepandaian yang kita miliki, jangan menyombongkan kelebihan ataupun menyombongkan apa yang kita miliki, jangan suka menyombongkan kapandaian yang kita miliki, janganlah kita suka menyombongkan diri merasa paling pemberani, sikap sabar, cermat, berhati-hati, dan waspada, janganlah suka menyombongkan diri karena kesombongan itulah yang akan membinasakanmu, janganlah suka disanjung, karena sanjungan itu akan menjerumuskan kedalam hal yang tidak baik, jangan suka disanjung, jangan suka menceritakan kejelekan orang lain hanya demi mendapatkan sesuatu, kita jangan melakukan berbagai cara hanya demi agar kita dianggap atau diakui oleh orang lain, selektif memilih teman, jangan merasa serba tahu, raihlah kepercayaan orang lain dengan cara yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Darusuprapta.
1988. Serat Wulang Reh anggitan dalem Sri Pakubuwana IV. PT Citra Jaya
Murti: Surabaya.
Daryanto,
J. (2014). PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PUPUH MIJIL SERAT WULANGREH KARYA PAKU
BUWANA IV. Jurnal Pendidikan Dasar, 2(2).
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/diksar/article/view/5445
Lan, M., Pada, N., Membaca, P., Menulis, D. A. N., Utami, E. S., Jawa,
S., Bahasa, F., & Semarang, U. N. (2019). Piwulang : Journal of Javanese
Learning and Teaching. 7(2), 44–52.
Sri Yulita Pramulia Panani. (2019). Serat Wulangreh: Ajaran Keutamaan
Moral Membangun Pribadi yang Luhur. Serat Wulangreh: Ajaran Keutamaan Moral
Membangun Pribadi Yang Luhur, 29(2), 275–299.
https://doi.org/10.22146/jf.47373
Widhi, H. (n.d.). Serat WulangREH karya Paku Buwana II. 1–10.
id.wikipedia.org/wiki/Serat_Wulangreh diakses hari Jumat
tanggal 4 September 2020 pukul 22.22 WIB.
Nasiruddin. (2017). Peran Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat
dalam Pendidikan Karakter Generasi Muda Bangsa. Prosiding Seminar Nasional Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas
Negeri Medan Tahun 2017, 1(1), 339–343.
http://semnastafis.unimed.ac.id/wp- content/uploads/2017/11/25.-NASIRUDIN.pdf
Nugroho, Y. E., Widodo, W., & Hardyanto, H. (2019).
SERAT WULANG PUTRA SEBAGAI SUMBER PENDIDIKAN KARAKTER GENERASI MODERN (Serat
Wulang Putra As a
Source of
Characters Education for Modern Generation). Alayasastra, 15(2), 141.
https://doi.org/10.36567/aly.v15i2.409
Fisika, J. P.,
Biologi, J. P., Kimia, J. P., & Ganesha, U. P. (2013). 2165-3685-1-Sm. 2(2),
209– 220.
Nugroho, Y. E.,
Widodo, W., & Hardyanto, H. (2019). SERAT WULANG PUTRA SEBAGAI SUMBER
PENDIDIKAN KARAKTER GENERASI MODERN (Serat Wulang Putra As a
Source of
Characters Education for Modern Generation). Alayasastra, 15(2), 141.
https://doi.org/10.36567/aly.v15i2.409
Nasiruddin. (2017).
Peran Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat dalam Pendidikan Karakter Generasi Muda
Bangsa. Prosiding Seminar Nasional
Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Tahun 2017, 1(1), 339–343.
http://semnastafis.unimed.ac.id/wp-
content/uploads/2017/11/25.-NASIRUDIN.pdf
Sugiyono. (2008). Memahami
penelitian kualitatif. Bandung:Alfabeta.