Selasa, 28 September 2021

PROFESIONAITAS GURU DALAM PJJ

 

PROFESIONAITAS GURU DALAM PJJ

Dra DWI RETNOWATI

SMP N2 SAMPANG, CILACAP

 

            Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pada masa pandemi ini, seberapa cepatkah kemampuan pendidik menyikapi kondisi pembelajaran jarak jauh yang telah berlangsung semenjak dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama (SKB)Empat Menteri Nomor 440-882 tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran.

 

            Pada dasarnya prinsip pembelajaran  adalah memberikan pengalaman. Oleh karena itu, yang  membuat manusia belajar adalah adanya pengalaman.  Ada pepatah yag bunyinya :  pengalaman adalah guru terbaik. Dari  pengalaman itulah ada yang berubah pada manusia yaitu mental  dan perilaku. Dalam pembelajaran tugas guru adalah  memberikan pengalaman kepada siswa. Dari pengalaman itu siswa menjadi terarah. Jadi, saat kita memberikan pembelajaran pada hakikatnya bukanlah menyampaikan materi, tetapi menghadirkan pengalaman.

 

            Agar siswa memiliki pengalaman yang berharga pada dirinya, perlu adanya sperencanaan yang matang yang harus  dilakukan oleh guru. Dalam membuat rancangan pembelajaran hal terpenting adalah pada tujuan pembelajar. Tujuan pembelajaan ini yang nantinya dijadikan pedoman oleh guru dalam membeikan penglamn pda sswa. Perencanaan tujuan pembelajaran harus jelas dan menggunakan kata-kata yang operasional. Adapun kegiatan pembelajaran yang berlangsung haruslah mencerminkan perilaku yang membawa siswa menuju pengalaman yang bermakna. Kegiatan pembelajaran terebut menunjukkan adanya interaksi, respon umpan balik, memberikan contoh dan non-contoh, belajar secara bertahap, prosesnya menarik secara psikologis, penghargaan dan pujian, kecepatan berbeda-beda dan sumber belajar beragam.

 

Selain itu, sebelum melaksanakan proses pembelajaran seorang guru melakukan diagnosa asesmen pra kognitif yaitu bagaimana caranya agar peserta didik mendapat pengalaman belaja yang bermakna. Agar apa yang diharapkan oleh guru itu dapat tepat sasaran, maka guru harus bisa menempatkan diri pada posisi peserta didik, bersifat empati dan mengobservasi kegiatn pembelajaran dengan seksama. Guru harus tahu tentang : apa yang siswa harapkan,  apa yang siswa rasakan, apa yang menarik bagi siswa,  apa yang menyenangkan bagi siswa, apa yang membuat siswa berproses mendapatkan pengalaman, apa yang siswa tidak suka, apa yang siswa hindari, apa yang membuat siswa ketagihan, apa yang menjadi kesukaan siswa, dan apa yang merangsang minat siswa.

 

            Tantangan guru selaku pendidik di masa new normal maupun masa depan berupa mendesain proses pembelajaran yang membuat peserta didik ketagihan belajar seperti halnya yang mereka rasakan ketika bermain games. Untuk itu, pendidik harus memiliki segudang pengetahuan dan ketrampilan. Guru harus mampu mengikuti pekembangan jaman yang ada. Untuk meningkatkan kompetensinya, guru hendaknya mengikuti berbagai program pendidikan dan latihan tentang pembelajaran berbasis e-learning. Ha itu dikarenakan di era digital seperti sekarang ini guru harus bisa mendesain pembelajaran berbasis teknologi informatika.

 

            Di masa pandemic ini pembelajaran dilaksanakan secara daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). Dalam proses pelaksanaannya banyak sekali kendala yang dihadapi. Bukan hanya siswa dan orang tua  saja yang mengalami masalah terkait PJJ ini. Guru sebagai ujung tombak suksesnya PJJ juga mengalami banyk masalah. Masalh yang pling mendasar adalah kompetensi guu dalam pengoperasian perangkat teknologi informatika. Salah satu factor utama pelaksanaan PJJ adalah perangkt teknologi. Ada banyk ragam perangkat teknologi informatika yang dapat digunakan guru untu menunjang pelaksanaan PJJ.  Mulai dari aplikasi yang sederhana seperti Whatsapss sampai ke yang tigkat tinggi seperti Googlemeet, Googleclassroom, Youtbube, dan lain sebagainya. Semua aplikasi ini membutuhkan ketrampilan agar dapat beroperasi dengan baik.

            Tidak dapat dipungkiri, tidak semua guru terampil menggunakan alat sarana PJJ. Termasuk siswa juga belum tentu semua paham terhadap pengopeasian alat sarana PJJ. Belum lagi ditmbah dengan berbagai masalah yang lain yang menunjang suksesnya pelaksanaan PJJ. Masalah jaringan internet, kuota internet, jaringan listrik yang kurang memadai masih menjadi bahan permasalahan bagi guru, siswa, dan orang tua. Namun demikian pembelajaran harus terus berjalan walaupun dengan kondisi yang terseok-seok.

            Di luar kondisi non teknis, seperti masalah jaringan, kuota, dan listrik, ada masalah teknis yang menjadi pekerjaan rumah bagi guru sebagai ujung tombak kesuksesan pelaksanaan PJJ. Rumit dan ruwetnya pengoperasian perangkat penunjang PJJ membuat semangat guru menurun dalam pelaksanaan PJJ. Terutam pada guru-guru yang dari segi usia termasuk menengah ke atas. Semangat mereka untuk meningkatkan diri rendah. Hal itu dikarenakan ketidakterampilannya mengoperasikan sarana PJJ. Rumitnya pengoperasionalan perangkat membuat pelaksanaan PJJ menjadi tidak sesuai harapan.

             

            Kondisi seperti itu  membuat efek yang tidak bisa kita pungkiri yaitu learning loos, kondisi pesrta didik kehilangan kesempatan untuk berproses mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Perbedaan akses dan kualitas selama pelaksanaan PJJ dapat mengakibatkan kesenjangan luar biasa. Tingkat kompetensi guru yang tiak sama pun menyebabkan kesenjangan yang besar baik bagi pengalaman belajar siswa. Hal itu sangat berdampak pada pengalaman belajar siswa. Kondisi sperti itu  adalah  hal yang tidak bisa dipaksakan. Berbagai hal  di luar kemampuan kita seperti beraneka ragamnya kondisi lingkungan, yaitu  tinggi rendahnya lapisan topografi bumi, yang menghambat terlaksananya  proses pembelajaran dengan baik. Oleh karena itu, pelatihan, worshop, diklat dan sejenisnya bukan lagi diadakan dalam kurun waktu semester melainkan minggu bahkan hari. Hal itu  untuk memperbaharui kemampuan dan pemecahan masalah dari kendala yang dihadapi demi menunjang proses pelaksanaan PJJ yang sesuai harapan.

 

            Berbagai kemudahan akses belajar telah ada dalam menanggulangi pandemi untuk mengikuti berbagai pelatihan secara daring maupun luring. Kemudahan kesempatan belajar ini semua bergantung  pada sikap pendidik dalam mengikuti kegiatan pada program yang diberikan. Mengikuti berbagai pelatihan memberikan pengalaman kepada pendidik. Guru sebagai pendidik hendaknya juga menerapkan sikap sebagai pembelajar yang baik. Sebagai  pembelajar yang baik, guru harus memiliki sikap yang tangguh. Tidak hanya peserta didiknya yang dituntut belajar,  melainkan guru pun juga merupakan contoh teladan dari figur yang digugu dan ditiru. Ketika diklat, pelatihan, workshop dan sejenisnya diikuti dengan sepenuh hati dalam menyelesaikan setiap tugas yang diberikan, tentunya akan berdampak positif bagi guru itu sendiri. Dampak yang dialami oleh guru berimbas kepada siswanya.  

Pelaksanaan secara daring maupun luring yang diikuti tidak hanya memberikan kesempatan mendapatkan ilmu melainkan juga mendapatkan teman-teman yang beraneka ragam. Berkenalan dengan teman dan guru baru dari berbagai suku di Indonesia membawa kekhasan tersendiri dalam mengikuti kegiatan yang berlangsung. Pada akhirnya akan mendapatkan sebuah pengalaman bepikir, bahwa hal itu merupakan sebuah framework atau kerangka berpikir seorang pengajar untuk menguasai 4 komponen. Ketiga komponen itu  berupa teknologi, pedagogi, materi ajar,  dan social. Keempat komponen tersebut membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan.

 

            Fakta di lapangan berbicara lain. Sikap pesimis dari rekan tidak dapat dielakkan. Banyak yng beranggapan bahwa mengikuti pelatihan identik dengan tugas. Seringkali terjadi, ketika ditawari mengikuti pelatihan mereka menanyakan tentang tugas yang terkait dengan pelatihan tersebut. Mereka menanyakan : apa tugasnya, banyak ataukah sedikit, gampang ataukah susah. Jika sekiranya memberatkan mereka, bisa dipastikan mereka malas untuk mengikuti. Hanya guru yang memiliki komitmen dan rasa ingin meningkatkan diri yang besar yang mau mengikuti sederetan pelatihan.

 

            Seandainya mereka tahu dengan berbagai pelatihan yang tersedia membawa perubahan dalam menghadapi keadaan yang terjadi secara cepat, tentu mereka  sebagai pendidik bisa melatih keahlian diri dalam belajar dan mengajar. Oleh karena itu, mengikuti pelatihan yang tersebar di media massa atau media sosial  yang sudah terseleksi adalah jalan terbaik. Tantangan yang lainnya tidak hanya bersumber dari dalam diri guru itu sendiri, tetapi juga dari lingkungan tempat tinggal, masa kerja, usia, dan teman sejawatnya. PJJ sukses jika didukung oleh guru yang berkompeten di bidangnya. Guru yang menguasai teknologi, pedagogi, materi ajar, dan social yang tinggi.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

4 PERKARA AGAR BISA ISTIQOMAH DI ATAS SUNNAH

1. Berilmu Menuntut ilmu adalah cara yang harus dilakukan agar tahu jalan mana yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Agar tahu jalan yang ...