PROFESIONAITAS GURU DALAM PJJ
Dra DWI
RETNOWATI
SMP N2 SAMPANG,
CILACAP
Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang
Sisdiknas dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pada
masa pandemi ini, seberapa
cepatkah kemampuan pendidik menyikapi kondisi pembelajaran jarak jauh yang telah berlangsung semenjak dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama
(SKB)Empat Menteri Nomor 440-882 tahun 2020 tentang Panduan
Penyelenggaraan Pembelajaran.
Pada dasarnya prinsip pembelajaran adalah memberikan pengalaman. Oleh karena
itu, yang membuat manusia belajar adalah
adanya pengalaman. Ada pepatah yag
bunyinya : pengalaman adalah guru
terbaik. Dari pengalaman itulah ada yang
berubah pada manusia yaitu mental dan perilaku. Dalam pembelajaran tugas guru
adalah memberikan pengalaman kepada
siswa. Dari pengalaman itu siswa menjadi terarah. Jadi, saat kita memberikan
pembelajaran pada hakikatnya bukanlah menyampaikan materi, tetapi menghadirkan
pengalaman.
Agar siswa memiliki pengalaman yang
berharga pada dirinya, perlu adanya sperencanaan yang matang yang harus dilakukan oleh guru. Dalam membuat rancangan
pembelajaran hal terpenting adalah pada tujuan pembelajar. Tujuan pembelajaan
ini yang nantinya dijadikan pedoman oleh guru dalam membeikan penglamn pda
sswa. Perencanaan tujuan pembelajaran harus jelas dan menggunakan kata-kata
yang operasional. Adapun kegiatan pembelajaran yang berlangsung haruslah
mencerminkan perilaku yang membawa siswa menuju pengalaman yang bermakna.
Kegiatan pembelajaran terebut menunjukkan adanya interaksi, respon umpan balik,
memberikan contoh dan non-contoh, belajar secara bertahap, prosesnya menarik
secara psikologis, penghargaan dan pujian, kecepatan berbeda-beda dan sumber
belajar beragam.
Selain itu, sebelum melaksanakan
proses pembelajaran seorang guru melakukan diagnosa asesmen pra kognitif yaitu bagaimana caranya agar peserta didik mendapat
pengalaman belaja yang bermakna. Agar apa yang diharapkan oleh guru itu dapat
tepat sasaran, maka guru harus bisa menempatkan diri
pada posisi peserta didik, bersifat empati dan mengobservasi
kegiatn pembelajaran dengan seksama.
Guru harus tahu tentang : apa yang siswa harapkan, apa yang siswa rasakan, apa yang
menarik bagi siswa, apa yang menyenangkan
bagi siswa, apa yang membuat siswa berproses mendapatkan pengalaman, apa yang siswa tidak suka, apa yang siswa hindari, apa yang membuat siswa ketagihan, apa yang menjadi
kesukaan siswa, dan apa yang merangsang minat siswa.
Tantangan guru selaku pendidik di masa new normal maupun
masa depan berupa mendesain proses pembelajaran yang membuat peserta didik ketagihan belajar seperti halnya yang mereka
rasakan ketika bermain games. Untuk itu, pendidik harus memiliki segudang pengetahuan
dan ketrampilan. Guru harus mampu mengikuti pekembangan jaman yang ada. Untuk
meningkatkan kompetensinya, guru hendaknya mengikuti berbagai program pendidikan dan latihan tentang pembelajaran berbasis e-learning.
Ha itu dikarenakan di era digital seperti sekarang ini guru harus bisa
mendesain pembelajaran berbasis teknologi informatika.
Di
masa pandemic ini pembelajaran dilaksanakan secara daring atau pembelajaran
jarak jauh (PJJ). Dalam proses pelaksanaannya banyak sekali kendala yang
dihadapi. Bukan hanya siswa dan orang tua
saja yang mengalami masalah terkait PJJ ini. Guru sebagai ujung tombak
suksesnya PJJ juga mengalami banyk masalah. Masalh yang pling mendasar adalah
kompetensi guu dalam pengoperasian perangkat teknologi informatika. Salah satu
factor utama pelaksanaan PJJ adalah perangkt teknologi. Ada banyk ragam
perangkat teknologi informatika yang dapat digunakan guru untu menunjang
pelaksanaan PJJ. Mulai dari aplikasi
yang sederhana seperti Whatsapss sampai ke yang tigkat tinggi seperti Googlemeet,
Googleclassroom, Youtbube, dan lain sebagainya. Semua aplikasi ini membutuhkan
ketrampilan agar dapat beroperasi dengan baik.
Tidak
dapat dipungkiri, tidak semua guru terampil menggunakan alat sarana PJJ.
Termasuk siswa juga belum tentu semua paham terhadap pengopeasian alat sarana
PJJ. Belum lagi ditmbah dengan berbagai masalah yang lain yang menunjang
suksesnya pelaksanaan PJJ. Masalah jaringan internet, kuota internet, jaringan
listrik yang kurang memadai masih menjadi bahan permasalahan bagi guru, siswa,
dan orang tua. Namun demikian pembelajaran harus terus berjalan walaupun dengan
kondisi yang terseok-seok.
Di
luar kondisi non teknis, seperti masalah jaringan, kuota, dan listrik, ada
masalah teknis yang menjadi pekerjaan rumah bagi guru sebagai ujung tombak kesuksesan
pelaksanaan PJJ. Rumit dan ruwetnya pengoperasian perangkat penunjang PJJ
membuat semangat guru menurun dalam pelaksanaan PJJ. Terutam pada guru-guru
yang dari segi usia termasuk menengah ke atas. Semangat mereka untuk
meningkatkan diri rendah. Hal itu dikarenakan ketidakterampilannya
mengoperasikan sarana PJJ. Rumitnya pengoperasionalan perangkat membuat
pelaksanaan PJJ menjadi tidak sesuai harapan.
Kondisi seperti itu membuat efek yang
tidak bisa kita pungkiri yaitu learning
loos,
kondisi pesrta didik kehilangan
kesempatan untuk berproses mendapatkan pengalaman belajar yang
bermakna. Perbedaan akses dan kualitas selama
pelaksanaan PJJ dapat
mengakibatkan kesenjangan
luar biasa. Tingkat kompetensi guru yang tiak sama pun
menyebabkan kesenjangan yang besar baik bagi pengalaman belajar siswa. Hal itu
sangat berdampak pada pengalaman belajar siswa. Kondisi sperti itu adalah
hal yang tidak bisa dipaksakan. Berbagai hal di luar
kemampuan kita seperti beraneka
ragamnya kondisi lingkungan, yaitu tinggi
rendahnya lapisan topografi bumi, yang menghambat terlaksananya proses pembelajaran dengan baik. Oleh karena
itu,
pelatihan, worshop, diklat dan sejenisnya bukan lagi diadakan dalam kurun waktu semester melainkan minggu bahkan
hari. Hal itu untuk memperbaharui kemampuan
dan pemecahan masalah dari kendala yang dihadapi demi menunjang proses pelaksanaan PJJ
yang sesuai harapan.
Berbagai kemudahan akses belajar telah ada dalam menanggulangi pandemi untuk mengikuti berbagai pelatihan secara daring maupun luring.
Kemudahan kesempatan belajar
ini semua bergantung pada sikap pendidik dalam mengikuti kegiatan pada program yang diberikan. Mengikuti berbagai pelatihan memberikan pengalaman
kepada pendidik.
Guru sebagai pendidik hendaknya juga menerapkan sikap sebagai pembelajar yang
baik. Sebagai
pembelajar yang
baik, guru harus memiliki sikap yang tangguh. Tidak
hanya peserta didiknya yang dituntut belajar, melainkan guru pun
juga merupakan contoh teladan dari figur yang digugu dan ditiru. Ketika diklat, pelatihan, workshop
dan sejenisnya diikuti dengan sepenuh hati dalam menyelesaikan setiap tugas
yang diberikan, tentunya akan berdampak positif bagi guru itu
sendiri. Dampak yang dialami oleh guru berimbas kepada siswanya.
Pelaksanaan secara daring maupun luring yang diikuti tidak hanya memberikan kesempatan
mendapatkan ilmu melainkan juga mendapatkan teman-teman yang beraneka ragam.
Berkenalan dengan teman
dan guru baru dari berbagai suku di Indonesia membawa
kekhasan tersendiri dalam mengikuti kegiatan yang berlangsung.
Pada akhirnya akan mendapatkan sebuah pengalaman bepikir, bahwa hal itu merupakan
sebuah framework atau kerangka
berpikir
seorang pengajar untuk menguasai 4 komponen. Ketiga komponen itu berupa teknologi, pedagogi, materi ajar, dan social. Keempat
komponen tersebut membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan.
Fakta
di lapangan berbicara lain. Sikap
pesimis dari rekan tidak dapat dielakkan. Banyak yng
beranggapan bahwa mengikuti pelatihan identik dengan tugas. Seringkali terjadi,
ketika ditawari mengikuti pelatihan mereka menanyakan tentang tugas yang
terkait dengan pelatihan tersebut. Mereka menanyakan : apa tugasnya, banyak
ataukah sedikit, gampang ataukah susah. Jika sekiranya memberatkan mereka, bisa
dipastikan mereka malas untuk mengikuti. Hanya guru yang memiliki komitmen dan
rasa ingin meningkatkan diri yang besar yang mau mengikuti sederetan pelatihan.
Seandainya mereka tahu dengan berbagai pelatihan yang
tersedia membawa perubahan dalam menghadapi keadaan yang terjadi secara cepat, tentu mereka sebagai pendidik bisa melatih keahlian diri
dalam belajar dan mengajar. Oleh
karena itu, mengikuti
pelatihan yang tersebar di media massa atau media sosial
yang
sudah terseleksi adalah jalan terbaik. Tantangan yang lainnya tidak hanya bersumber dari dalam diri guru itu
sendiri, tetapi juga dari lingkungan tempat tinggal, masa kerja,
usia, dan teman sejawatnya. PJJ sukses jika didukung oleh guru
yang berkompeten di bidangnya. Guru yang menguasai teknologi, pedagogi, materi
ajar, dan social yang tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar